Sunday, 21 October 2012

Andai Aku Menjadi Ketua KPK

Pagi itu aku dibikin kesal sama tikus sialan yang merusak mesin cuciku. Bagaimana tidak kesal, itu adalah kali ketiga mesin cuciku rusak akibat ulah tikus sialan itu. Dan bukan hanya mesin cuciku saja yang jadi korbannya, barang-barang lainnya pun banyak yang rusak oleh tikus itu.

"Ah sudahlah nanti malam saja aku perbaiki mesin cuci ini. Sekarang aku lihat berita dulu di TV sambil sarapan", batinku saat itu.

Berita di TV tidak kalah serunya dengan kegalauan hatiku saat itu. Beritanya mengabarkan tentang koruptor yang masih buron dan belum tertangkap hingga saat ini. Ulah koruptor ini benar-benar sangat merusak, sama dengan tikus yang ada di rumahku. Kalau tikus di rumahku merusak barang-barang yang ada di sekitarnya tanpa pandang bulu. Demikian juga dengan koruptor, yang merusak dan menggerogoti aset-aset dan kekayaan negara tanpa peduli dengan akibat yang ditimbulkannya.

Pantas saja koruptor selalu diasosiasikan dan disimbolkan dengan tikus. Karena memang sama-sama menjengkelkan dan merusak.

Kesamaan lainnya antara tikus dan koruptor adalah dalam hal pembasmiannya. Ketika aku berusaha membasmi tikus-tikus di rumahku, baik dengan cara menggunakan lem tikus, racun tikus, perangkap, dan lain-lain, banyak tikus yang tertangkap, akan tetapi jumlah tikus yang baru, sepertinya malah jadi bertambah. Tapi ketika tikus-tikus ini dibiarkan begitu saja, jumlahnya pun hanya segitu-segitu saja, namun dengan jumlah yang hanya segitu banyak barang yang tambah rusak.

Pun demikian halnya dengan koruptor, ketika para koruptor ditangkapi, jumlah koruptor-koruptor baru seakan terus bertambah dan bermunculan. Tapi ketika koruptor ini dibiarkan banyak aset dan kekayaan negara yang digerogotinya sehingga merugikan negara dan masyarakat.

Sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia sendiri sudah ada sejak zaman Orde Lama. Ketika itu tercatat dua kali dibentuk badan pemberantasan korupsi. Yang pertama, Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran). Yang kedua, Operasi Budhi.

Pada masa awal Orde Baru, dibentuk Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), yang diketuai Jaksa Agung. Kemudian diganti dengan Komite Empat. Dan diganti lagi dengan Operasi Tertib (Opstib) dengan tugas antara lain juga memberantas korupsi.

Di era reformasi, dibentuk Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN), KPPU, atau Lembaga Ombudsman. Kemudian dibentuk juga Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) yang akhirnya dibubarkan dengan logika membenturkannya ke UU Nomor 31 Tahun 1999. Nasib serupa tapi tak sama dialami oleh KPKPN, dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi, tugas KPKPN melebur masuk ke dalam KPK, sehingga KPKPN sendiri hilang dan menguap. Artinya, KPK-lah lembaga pemberantasan korupsi terbaru yang masih eksis.

Terlepas dari pasang surutnya lembaga pemberantasan korupsi di Indonesia, seandainya aku jadi ketua lembaga pemberantasan korupsi (kalau sekarang KPK, entahlah nanti bakal diganti apa lagi), maka aku akan belajar dari tikus di rumahku. Karena saat ini rumahku relatif aman dari bahaya tikus.

Apa yang kulakukan sangat sederhana (tidak seperti sebelumnya yang menggunakan ini dan itu untuk membasmi tikus), yaitu dengan menutup akses pintu keluar masuknya tikus ke dalam rumahku. Hasilnya tikus yang dari luar tidak dapat masuk ke dalam rumah dan tidak akan membuat kerusakan di dalam rumah. Kemudian tikus yang masih ada di dalam rumah aku cari sampai ke "akar-akarnya" dan dimusnahkan. Sesederhana itu.

Jadi untuk membasmi koruptor adalah dengan cara menutup serapat-rapatnya akses pintu seseorang melakukan korupsi. Sehingga koruptor baru tidak akan bisa masuk dan melakukan korupsi. Kemudian untuk koruptor lama yang masih ada di dalam sistem, dicari sampai ke "akar-akarnya" dan "dimusnahkan". Sesederhana itu.

Hasilnya negara kita akan aman dan bebas dari para tikus pengrusak ini.

http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/157/Setyono.html

Monday, 24 January 2011

Jenis-Jenis Resiko dalam Bisnis

Sebagai seorang pemula, entrepreneur yang akan berbisnis perlu mengenal beberapa resiko yang sering dijumpai dalam bisnis, khususnya start-up business, yaitu:
  1. Resiko Murni
    Resiko murni adalah resiko yang muncul sebagai akibat dari sebuah situasi atau keputusan yang konsekuensinya adalah kerugian. Beberapa bentuk resiko murni yang sering muncul diantaranya adalah:

    a. Resiko hilang/rusaknya aset yang dimiliki yang diakibatkan kebakaran, pencurian, penggelapan, dan sebagainya.

    b. Kecelakaan kerja pada proses produksi.

    c. Resiko akibat tuntutan hukum pihak lain, misalnya keracunan dari makanan yang Anda jual, tuntutan konsumen akibat kelalaian kita, dan sebagainya.

    d. Resiko operasional lainnya.

    e. Bencana alam (force majeure), seperti banjir, gempa, angin topan, dan sebagainya.

  2. Resiko Spekulatif
    Resiko spekulatif adalah resiko yang muncul akibat situasi atau keputusan yang konsekuensinya bisa berupa keuntungan ataupun kerugian. Contoh resiko spekulatif diantaranya adalah:

    a. Resiko Perubahan Harga
    Harga pasar suatu produk, jasa, atau komoditi dapat berubah-ubah. Ini dapat naik maupun turun. Terkait dengan perubahan harga input, jika harga input naik, maka perusahaan dapat mengalami kerugian penurunan marjin keuntungan. Sebaliknya, jika harga input turun, maka perusahaan dapat mengalami keuntungan, yaitu berupa kenaikan marjin keuntungan.
    Terkait dengan harga output, jika harga output naik, maka perusahaan akan mengalami keuntungan karena naiknya marjin keuntungan. Sementara, jika harga output turun, maka perusahaan akan mengalami kerugian, yaitu berupa penurunan marjin keuntungan.

    b. Resiko Kredit
    Resiko kredit adalah resiko yang muncul dari transaksi kredit, seperti utang dagang. Jika pihak yang kita berikan kredit mengalami gagal bayar, maka kita akan mengalami kerugian.
Dengan mengetahui resiko-resiko yang ada kita bisa melakukan manajemen resiko untuk meminimalisir resiko-resiko tersebut.

Friday, 14 January 2011

Tips Entrepreneur

Berikut akan saya sharingkan lagi masih dari buku "Modul Kewirausahaan untuk Program Strata 1" ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali, PH.D. dkk, penerbit Hikmah, mengenai Tips Entrepreneur.
  • Modal utama berwirausaha bukan pada uang, melainkan keyakinan untuk menang. Sering kali pikiran kita terbelenggu oleh batasan-batasan materi (uang, tempat usaha, produk) untuk memulai suatu usaha. Dan kita terlalu fokus pada batasan-batasan itu sehingga kita tidak bergerak maju.
    Ada modal lain yang memiliki pengaruh yang dahsyat pada kesuksesan usaha, yaitu keyakinan untuk menang (mindset). Konsentrasikan pikiran Anda pada perubahan pola pikir Anda. Ingatlah untuk meraih kemenangan, Anda pun harus berjiwa pemenang.
  • Bersahabat dengan ketidakpastian. Menjadi wirausaha berarti Anda siap bersahabat dengan ketidakpastian. Siap akan hal-hal yang tidak pasti, tidak terencana, dan mungkin saja tidak terukur. Ketidakpastian tidak untuk dihindari, hadapi ketidakpastian dengan riset, data, dan intuisi wirausaha. Dekati dan beradaptasilah dengan ketidakpastian.
  • Buka pikiran Anda, pelajari hal-hal baru. Terjun menjadi wirausaha akan menjadikan Anda berada di lingkungan baru yang serba asing. Lingkungan tidak saja dapat membentuk Anda menjadi wirausaha sukses, tetapi juga mampu menjegal langkah Anda untuk maju. Pelajari dan amati tingkah laku lingkungan baru Anda, milikilah kemampuan fast learner untuk tetap bertahan.
  • Be ready, persiapkan diri Anda dengan baik. Persiapan merupakan faktor penting dalam keberhasilan. Siapkan dan pupuk keahlian Anda sebelum terjun dalam lini bisnis yang akan Anda geluti. Perkaya dengan riset-riset kecil mengenai pasar yang akan Anda garap.
  • Tampilkan wajah yang enak dilihat, bangun network. Wirausaha bukanlah orang yang sukses dengan usahanya sendiri. Dia selalu memerlukan bantuan dari orang lain; teman, orangtua, pemasok, atau relasi bisnis lainnya. Perbaiki tampilan Anda dengan senyum, ramah, enak dilihat, dan antusias. Gunakan kelebihan-kelebihan tersebut untuk memperluas network Anda.
  • Kurangi risiko dengan dukungan data, informasi-informasi, juga kemampuan-kemampuan teknis. Jangan lupa data yang akurat akan menjadi sahabat Anda dalam meng-counter risiko yang mungkin muncul. Gali dan cermati data dan informasi yang berhubungan dengan bidangnya.

Tuesday, 11 January 2011

Entrepreneurial Mindset

Alhamdulillah, kemarin dapat buku bagus tentang kewirausahaan, gratis lagi. :) Judulnya "Modul Kewirausahaan untuk Program Strata 1" ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali, PH.D. dkk, penerbit Hikmah. Saya akan sharing sebagian isinya, salah satunya mengenai mindset seorang entrepreneur.
Menurut McGraith & Mac Millan (2000), ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki setiap calon wirausaha. Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Action oriented. Bukan tipe menunda, wait and see, atau membiarkan sesuatu (kesempatan) berlalu begitu saja. Dia tidak menunggu sampai segala sesuatunya jelas dulu, atau budget-nya ada dulu. Dia juga tidak menunggu ketidakpastian pergi dulu, baru berusaha. Mereka adalah orang yang ingin segera bertindak, sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain). Prinsip yang mereka anut adalah see and do. Bagi mereka, risiko bukanlah untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan kelihaian.
  2. Berpikir simpel. Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks, mereka selalu belajar menyederhanakannya. Dan sekalipun berilmu tinggi, mereka bukanlah manusia teknis yang ribet dan menghendaki pekerjaan yang kompleks. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap.
  3. Mereka selalu mencari peluang-peluang baru. Apakah itu peluang usaha yang benar-benar baru, atau peluang dari usaha yang sama. Untuk usaha-usaha yang baru, mereka selalu mau belajar yang baru, membentuk jaringan dari bawah dan menambah landscape atau scope usahanya. Sedangkan dalam usaha yang sama, mereka selalu tekun mencari alternatif-alternatif baru, seperti model, desain, platform, bahan baku, energi, kemasan, dan struktur biaya produksi. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru, melainkan juga dari cara-cara baru.
  4. Mengejar peluang dengan disiplin tinggi. Seorang wirausaha bukan hanya awas, memiliki mata yang tajam dalam melihat peluang atau memiliki penciuman yang kuat terhadap keberadaan peluang itu, tetapi mereka bergerak ke arah itu. Peluang bukan hanya dicari, melainkan diciptakan, dibuka, dan diperjelas. Karena wirausaha melakukan investasi dan menanggung risiko, maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi. Wirausaha-wirausaha yang sukses bukanlah pemalas atau penunda pekerjaan. Mereka ingin pekerjaannya beres, dan apa yang dipikirkan dapat dijalankan segera. Mereka bertarung dengan waktu karena peluang selalu berhubungan dengan waktu. Apa yang menjadi peluang pada suatu waktu, belum tentu masih menjadi peluang di lain waktu. Sekali kesempatan itu hilang, belum tentu akan kembali lagi. Setiap gagasan brilliant dan inovasi biasanya harus dibangun dari bawah dan disusun seluruh mata rantai nilainya (value chain).
  5. Hanya mengambil peluang yang terbaik. Seorang wirausaha akan menjadi sangat awas dan memiliki penciuman yang tajam pada waktunya. Berbeda dengan pemula yang belum terlatih dan masih bingung, maka wirausaha yang terlatih akan cepat membaca peluang. Namun, wirausaha sejati hanya akan mengambil peluang yang terbaik. Ukuran menarik itu adalah pada nilai-nilai ekonomis yang terkandung didalamnya, masa depan yang lebih cerah, kemampuan menunjukkan prestasi, dan perubahan yang dihasilkan. Semua itu biasanya dikaitkan dengan "rasa suka" terhadap objek usaha atau kepercayaan bahwa dia "mampu" merealisasikannya.
    Pada akhirnya, sukses yang diraih setiap orang ditentukan oleh keberhasilan orang itu dalam memilih.
    Success = f(choice)
    Success adalah fungsi dari keberhasilan memilih. Apakah memilih sekolah, karier, bidang usaha, teman, pasangan, karyawan/eksekutif, mitra usaha, dan sebagainya. Pilihan yang terbaik akan menentukan hasil yang bisa dicapai.
  6. Fokus pada eksekusi. Wirausaha bukanlah seorang yang hanya bergelut dengan pikiran, merenung atau menguji hipotesis, melainkan seorang yang fokus pada eksekusi. Mereka tidak mau berhenti pada eksploitasi pikiran atau berputar-putar dalam pikiran penuh keragu-raguan. "Manusia dengan entrepreneurial mindset mengeksekusi, yaitu melakukan tindakan dan merealisasikan apa yang dipikirkan daripada menganalisis ide-ide baru sampai mati" (McGraith dan Mac Millan, 2000, hlm.3). Mereka juga adaptif terhadap situasi, yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan di lapangan.
  7. Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti. Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. Dia menggunakan tangan dan pikiran banyak orang, baik dari dalam maupun luar perusahaannya. Mereka membangun jaringan daripada melakukan semua impiannya sendiri. Ibarat seorang orkestrator atau dirigen musik, dia mengumpulkan pemusik-pemusik yang ahli dalam memainkan instrumen yang berbeda-beda untuk menghasilkan nada-nada musik yang disukai penonton. Untuk itu, dia harus memiliki kemampuan mengumpulkan orang, membangun jaringan, memimpin, menyatukan gerak, memotivasi, dan berkomunikasi.
Itulah karakter-karakter dasar yang disebut sebagai entrepreneurial mindset.

Friday, 7 January 2011

5 (lima) tips marketing agar bisnis Anda di tahun 2011 berkembang

Link sumber : http://blogs.reuters.com/small-business/2010/12/31/5-marketing-tips-to-grow-your-business-in-2011/

- Stephanie Chandler adalah pengarang dari “LEAP! 101 Ways to Grow Your Business”
. Dia juga merupakan penasehat bisnis untuk Proyek REV - sebuah laboratorium pemasaran usaha kecil dari Deluxe Corp. Pandangan yang diungkapkan di sini adalah pandangan Stephanie sendiri. -

Akhir tahun akan tiba, sekarang adalah waktu untuk menilai kinerja usaha tahun sebelumnya, dan waktu untuk Anda mengembangkan rencana sukses 2011. Oleh karena pemasaran sangat penting untuk pertumbuhan bisnis, maka berikut ini ada beberapa strategi untuk membantu Anda mendapatkan awal yang kuat di tahun baru.

1. Berikan perombakan pada website Anda

Seperti sebuah rumah yang memerlukan pemeliharaan berkala dan perbaikan, website Anda juga harus ada peningkatan dan perubahan dari waktu ke waktu. Perhatikan kembali situs Anda dan buatlah rencana untuk me-refresh atau menambahkan konten, upgrade desain situs, atau meningkatkan pengalaman bagi pengunjung situs. Website Anda dapat menjadi awal perkenalan bagi calon pelanggan bisnis Anda, jadi sangat penting untuk membuat kesan yang tepat.

2. Komitmen untuk blogging

Blogging adalah salah satu alat yang paling kuat yang tersedia untuk usaha kecil. Hal ini memungkinkan Anda untuk terhubung dengan audiens Anda, menarik pelanggan baru, dan meningkatkan peringkat mesin pencari secara organik. Untuk hasil terbaik buatlah suatu jadwal untuk blogging setidaknya dua sampai tiga kali per minggu. Juga, berbagilah
posting baru dengan jaringan sosial Anda untuk nilai maksimum kepuasan pemasaran. Yang paling penting, bersabar saat Anda membangun audiens Anda. Dibutuhkan waktu untuk membangun momentum dengan cara blogging, tapi dengan usaha yang konsisten manfaatnya pasti akan mengikuti.

3. Bergaul dengan orang pintar

Jika Anda ingin maju, habiskanlah waktu bersama orang-orang yang unggul. Mulailah mengumpulkan orang pintar di jaringan anda. Undang pemilik bisnis lain untuk makan siang, atau bentuklah kelompok mastermind resmi sehingga Anda dapat tukar pikiran mengenai ide pemasaran dan strategi pengembangan bisnis. Anda mungkin akan terkejut dengan banyaknya hal yang dapat Anda pelajari dari pengalaman masing-masing dan berapa banyak pertumbuhan bisnis yang dapat Anda capai sebagai hasilnya.

4. Ujicobakan taktik pemasaran baru

Jika Anda ingin bisnis Anda memberikan dorongan besar pada tahun 2011, ujicobakanlah taktik pemasaran baru. Pemasaran mendatangkan pelanggan baru, sehingga teruslah membangun bisnis Anda dengan menambahkan taktik baru ke dalam taktik sebelumnya. Dengan begitu banyaknya pilihan - termasuk direct mail, periklanan, mobile marketing dan media sosial - berpikirlah masak-masak tentang pelanggan baru yang Anda inginkan dan apa yang mereka paling sukai untuk perhatian. Jangan memilih taktik baru hanya karena akan "menyenangkan" mencoba sesuatu hal yang baru.

5. Mengukur kinerja pemasaran

Perusahaan besar sangat serius untuk melacak performa kampanye pemasaran-mulai dari jumlah klik yang dihasilkan dari iklan online, kupon yang ditebus, hasil pembelian dari penjualan khusus, atau panggilan telpon yang dihasilkan dari kampanye. Tapi pemilik usaha kecil sering begitu sibuk mengelola tugas sehari-hari sehingga mereka lupa untuk mengambil langkah mundur dan melihat hasilnya. Luangkan waktu untuk menganalisa upaya pemasaran Anda tahun ini. Strategi yang mendatangkan hasil harus ditingkatkan, dan strategi yang tidak menghasilkan harus dihilangkan.

Apakah Anda siap untuk tahun yang dahsyat? Mengembangkan rencana pemasaran Anda adalah penting untuk pertumbuhan jangka panjang dan dapat membantu Anda membuat tahun 2011 menjadi tahun terbaik bagi Anda.

Thursday, 30 September 2010

Sukses Berbekal Kekuatan dan Kelemahan

Setiap manusia terlahir dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada yang terlahir dengan fisik sempurna, ada yang terlahir dengan fisik tidak sempurna. Ada yang terlahir di keluarga orang kaya, ada yang terlahir di keluarga orang miskin. Ada yang terlahir sebagai orang dengan IQ tinggi, dan ada juga yang terlahir dengan “IQ jongkok”. Namun itu semua sesuatu yang tidak bisa kita hindari dan tidak bisa kita ketahui sebelumnya karena ini semua sifatnya takdir dari Allah SWT.

Tidak bisa kita mengharapkan untuk terlahir di keluarga orang kaya, atau terlahir di keluarga cendikiawan yang memiliki gelar kesarjanaan bermacam-macam. Seandainya bisa, tentu tidak akan ada orang miskin di dunia ini. Tidak akan ada orang bodoh di dunia ini. Dan tentunya bisa kita bayangkan akan seperti apa dunia ini. Semuanya orang kaya, semuanya orang pintar, semuanya cantik-cantik, semuanya tampan-tampan. Betapa membosankan..

Kita bisa merasakan nikmatnya kaya karena ada orang miskin atau kita pernah miskin. Kita bisa merasakan nikmatnya sehat karena ada orang sakit atau kita pernah sakit. Dan Allah SWT yang Maha Mengatur sudah membuat keseimbangan ini di muka bumi, sehingga dunia ini tidak terasa membosankan walaupun umur dunia ini sudah ribuan tahun.

Kelebihan dan kekurangan diri kita adalah merupakan kekuatan dan kelemahan yang mesti kita kelola dengan benar. Ada banyak macam bentuk kekuatan dan kelemahan pada diri kita, yaitu:

· Yang sifatnya ke arah fisik (kecantikan, ketampanan)

· Emosional / Psikis (Tidak mudah stress, tenang, mampu mengendalikan diri)

· Spiritual (Sholeh, rajin ibadah, bijaksana)

· Kecerdasan Akademik (nilai raport bagus, IPK bagus)

· Keahlian / Keterampilan (seni, life skill, entrepreneur)

· Dan lain-lain

Semua macam bentuk kekuatan dan kelemahan tersebut harus kita nilai untuk mengukur seberapa besar kekuatan dan kelemahan diri kita. Penilaian ini akan terbagi menjadi tiga, yaitu:

  • Dibawah rata-rata
    Apabila kekuatan dan kelemahan kita ada di bawah rata-rata kebanyakan orang, tentunya kita akan menjadi orang yang selalu terkalahkan. Bagaimana mungkin kita akan bersaing dengan kebanyakan orang (mayoritas) yang nilai kekuatannya rata-rata?
  • Nilai rata-rata
    Pada kondisi ini, kekuatan dan kelemahan kita akan sama dengan kebanyakan orang. Jumlah orang yang memiliki kekuatan dan kelemahan dengan nilai rata-rata ini paling banyak dibandingkan dengan nilai lainnya. Baik itu dibandingkan dengan nilai dibawah rata-rata maupun diatas rata-rata. Artinya kalau kekuatan dan kelemahan kita ada di nilai rata-rata maka kita akan menjadi orang biasa-biasa saja.
  • Diatas rata-rata
    Kondisi ini, adalah kondisi yang tentunya kita harapkan. Karena pada saat kekuatan dan kelemahan kita berada di atas rata-rata, maka tentunya kita akan selalu menjadi pemenang dalam setiap persaingan yang ada.

Bagaimana cara mengukur kekuatan dan kelemahan ini? Ada beberapa cara untuk mengetahui dan mengukur kekuatan dan kelemahan diri kita, yaitu:

  • Pengukuran oleh diri sendiri
    Pengukuran ini bisa kita lakukan sendiri untuk melihat kekuatan dan kelemahan diri kita melalui indikator-indikator yang ada, seperti:
    • Apa prestasi kita dari dulu hingga kini?
    • Pendidikan apa saja yang pernah kita ikuti dari dulu hingga kini?
    • Piagam apa saja yang pernah kita dapatkan dari dulu hingga kini?
    • Piala apa saja yang pernah kita raih dari dulu hingga kini?
    • Penghargaan apa saja yang pernah kita dapatkan dari dulu hingga kini?
    • Apa keahlian dan bakat kita?
    • Dan lain-lain

Jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sejujur-jujurnya, karena ini akan menjadi penilaian awal terhadap kekuatan dan kelemahan diri kita.

  • Pengukuran oleh orang lain
    Pendapat orang lain tentang diri kita tentunya akan berbeda dengan pendapat diri kita sendiri. Karena biasanya kita akan subyektif menilai diri kita sendiri. Tapi bukan berarti orang lain pun obyektif menilai diri kita. Maksudnya adalah orang lain akan melihat dari sisi yang berbeda tentang kekuatan dan kelemahan kita. Bahkan terkadang ada kekuatan yang terlihat oleh orang lain pada diri kita namun kita tidak menyadarinya.
    Oleh karena itu:
    • Mintalah pendapat orang lain tentang kita
    • Catat pendapat orang-orang tersebut
    • Mintalah pendapat dari minimal 5 orang yang berbeda lingkungan (teman kerja, teman main, teman sekolah, keluarga, kolega, dll)
    • Mintalah mereka untuk menilai dengan jujur kelebihan dan kekurangan kita, kekuatan dan kelemahan kita, sikap positif dan negatif kita.
    • Lakukan penilaian tentang diri kita dengan pendapat orang-orang tersebut.
  • Syukur dan keajaibannya
    “Oke. Saya sudah menjawab seluruh pertanyaan diatas.”
    “Saya sudah minta pendapat orang lain.”
    “Dan hasilnya tak ada satupun prestasi saya.”
    “Tak ada satupun keahlian saya.”
    “Dan orang lain pun tak ada yang tahu kelebihan dan kekuatan saya apa.”
    “Trus gimana dong?”

    Tidak sedikit orang yang mengalami hal seperti ini. Merasa tidak punya prestasi apa-apa. Merasa tidak punya kelebihan apa-apa. Sehingga terkadang orang-orang seperti ini banyak yang berputus asa. Sering meratapi nasibnya yang malang. Dan banyak berkeluh kesah.

    Ketika kita merasa tidak ada satupun prestasi kita. Ketika kita merasa tidak ada satupun kelebihan kita. Dan ketika kita merasa menjadi orang yang paling sial di dunia ini. Maka ingatlah bahwa sebenarnya kita terlahir sebagai pemenang. Kita terlahir ke dunia ini melalui persaingan berjuta-juta sel sperma yang berlomba-lomba mendekati sel telur. Hanya satu sel sperma yang berhasil bersatu dengan sel telur. Dari hasil tersebut terbentuklah embrio, janin, bayi, dan akhirnya lahirlah kita ke dunia ini. Bukankah itu artinya kita terlahir sebagai pemenang? Yang mengalahkan jutaan sel sperma pesaing kita?

    Bersyukurlah! Syukuri apa yang ada pada diri kita. Dan pasti ada yang bisa kita syukuri. Tidak mungkin tidak ada. Kita bisa mensyukuri nikmat bernafas dengan normal. Kita bisa mensyukuri anggota badan kita yang normal dan lengkap. Dan masih banyak lagi yang harus kita syukuri.

    Lihatlah kebawah! Karena ketika kita bisa melihat kepada orang yang lebih malang dari kita, maka akan ada banyak hal yang bisa kita syukuri. Sehingga efeknya akan memberikan motivasi kita untuk mengoptimalkan apa yang kita miliki. Demikian sebaliknya, ketika kita selalu melihat kepada orang yang lebih beruntung dari kita, maka kita akan merasa menjadi orang yang sial di dunia ini. Dan efeknya adalah membuat kita menjadi orang yang malas, mudah putus asa, serta selalu berkeluh kesah.

    Beberapa manfaat syukur adalah:
    • Allah SWT akan menambahkan nikmatNya. Sehingga potensi-potensi kekuatan kita akan berkembang.
    • Allah SWT tidak akan meng-azab kita. Yang mengakibatkan kita menjadi orang yang selalu terkalahkan.
    • Akan selalu ada hal-hal yang bisa kita syukuri.
    • Hal-hal apa saja yang kita syukuri akan menjadi kekuatan kita yang terus akan berkembang.
    • Dengan bersyukur kita bisa melihat permasalahan dari sisi positif.
    • Kekuatan yang ada dari energi syukur bisa dioptimalkan.

Setelah kita melakukan penilaian terhadap diri kita, dengan beberapa metode diatas. Maka kita sudah bisa mengetahui peta potensi diri kita terletak pada posisi mana kita berada. Apakah posisi kita dibawah rata-rata? Apakah sama dengan rata-rata? Ataukah diatas rata-rata?

Hal ini penting kita lakukan karena dengan mengetahui peta potensi ini. Maka kita bisa melakukan langkah-langkah strategis selanjutnya yang bisa menjadikan kita pemenang sejati. Artinya ketika kita mengetahui posisi kita dibawah rata-rata maka kita akan berusaha meningkatkannya menjadi rata-rata. Demikian pun ketika posisinya di rata-rata akan ditingkatkan menjadi diatas rata-rata. Lantas bagaimana dengan yang nilainya diatas rata-rata? Apakah akan diam saja, karena sudah diatas rata-rata? Tentunya yang diatas rata-rata pun akan berusaha meningkatkan lagi nilainya sampai optimal, karena kalau diam saja tidak melakukan peningkatan maka ia akan disusul dan digantikan posisinya oleh orang-orang yang terus meningkatkan potensi kekuatannya secara optimal.

Kenapa perlu dilakukan peningkatan terhadap kekuatan dan kelemahan kita?

  • Untuk menghadapi persaingan. Dimana orang lain pun akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik.
  • Saat ini eranya dunia serba cepat. Dimana kondisi seseorang bisa berubah dengan cepat. Sekarang sukses, besok bisa gagal dan bangkrut. Sekarang biasa saja, besok bisa menjadi orang sukses.
  • Yang lambat akan kalah. Karena orang lain yang lebih cepat akan terus memperbaiki kekuatannya sehingga terus menerus akan menjadi pemenang.
  • Masih bisa dan mungkin untuk ditingkatkan. Kekuatan dan kelemahan kita bukan sesuatu yang sudah paten tidak bisa dirubah. Ia bisa berkurang dan juga bisa bertambah. Seseorang yang ingin menjadi pemenang maka ia akan berusaha untuk menambah dan meningkatkannya.
  • Agar menjadi pemenang. Dimana hal ini hanya dapat terwujud apabila kita lebih unggul dari pesaing kita.

Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan peningkatan terhadap kekuatan dan kelemahan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah mana yang harus didahulukan? Apakah kekuatan yang harus didahulukan untuk ditingkatkan? Apakah kelemahan yang harus didahulukan? Atau justru malah kedua-duanya harus ditingkatkan dalam waktu yang bersamaan?

Mari kita bahas satu persatu masalah ini. Sehingga kita memiliki pertimbangan yang matang untuk mengambil keputusan terbaik.


  • Peningkatan Kelemahan.
    Apabila kita mendahulukan peningkatan terhadap kelemahan kita. Maka kemungkinannya akan seperti ini. Nilai awal kelemahan kita kemungkinan terbesarnya tentu adalah dibawah rata-rata. Apakah mungkin sebuah kelemahan memiliki nilai rata-rata? Atau diatas rata-rata? Sangat jarang terjadi hal seperti itu. Seandainya terjadi pun berarti itu bukan sebuah kelemahan, melainkan kekuatan.

    Katakanlah sebuah kelemahan memiliki nilai merah atau nilai dibawah 6. Ketika dilakukan peningkatan dan perbaikan terhadap kelemahan kita, maka nilainya akan naik. Seberapa besar maksimal kenaikkan tersebut? Maksimal kenaikkannya mungkin hanya sekitar 2 poin. Jadi dari yang tadinya nilainya 5 maka sekarang menjadi 6 atau 7 poin. Artinya maksimal kenaikkan nilai kelemahan kita adalah menjadi sama dengan orang rata-rata. Sementara kekuatan kita tidak bertambah. Sehingga bisa jadi nilai kekuatan dan kelemahan kita akan seimbang. Dan sama dengan orang rata-rata. Ini berarti tidak ada keistimewaan pada diri kita, sehingga kita menjadi orang yang biasa saja, sama dengan kebanyakan orang.

  • Peningkatan Kekuatan.
    Sedangkan apabila kita mendahulukan peningkatan dan perbaikan terhadap kekuatan kita. Maka kemungkinannya akan seperti ini. Nilai awal kekuatan kita kemungkinan terbesarnya adalah minimal sama dengan rata-rata.

    Katakanlah sebuah kekuatan memiliki nilai diatas 5. Ketika dilakukan peningkatan dan perbaikan terhadap kekuatan kita, maka nilainya akan naik. Seberapa besar maksimal kenaikkan tersebut? Maksimal kenaikkannya mungkin hanya sekitar 2 poin juga. Jadi dari yang tadinya nilainya 6 maka sekarang menjadi 7 atau 8 poin. Artinya maksimal kenaikkan nilai kekuatan kita adalah menjadi diatas rata-rata orang. Sementara kelemahan kita tidak bertambah. Sehingga nilai kekuatan kita akan lebih tinggi dari rata-rata orang dan kelemahan kita tetap akan berada dibawah rata-rata. Walaupun kelemahan masih dibawah rata-rata, namun dikarenakan kekuatan kita melebihi orang rata-rata, maka kita akan tetap lebih unggul dibandingkan kebanyakan orang. Kita masih memiliki keistimewaan dengan kekuatan diatas rata-rata kita, jika dibandingkan dengan kebanyakan orang yang memiliki nilai rata-rata.

  • Peningkatan Kekuatan dan Kelemahan.
    Dan ketika kita melakukan peningkatan terhadap keduanya (kekuatan dan kelemahan kita). Maka kemungkinannya akan seperti ini. Nilai awal kelemahan kita sama seperti diatas yaitu dibawah rata-rata. Dan nilai awal kekuatan kita sama seperti diatas juga yaitu minimal sama dengan rata-rata.

    Katakanlah kelemahan kita memiliki nilai 5. Dan kekuatan kita memiliki nilai 6. Ketika dilakukan peningkatan dan perbaikan terhadap kekuatan dan kelemahan kita, maka nilainya akan naik. Seberapa besar maksimal kenaikkan tersebut? Karena peningkatannya dilakukan terhadap keduanya, maka maksimal kenaikkannya mungkin hanya sekitar 1 poin. Peningkatannya hanya sedikit. Tidak akan terlalu besar karena fokus peningkatan terbagi dua sehingga tidak akan maksimal. Jadi dari yang tadinya nilai kelemahannya 5 maka sekarang menjadi 5,5 atau 6 poin. Dan yang tadinya nilai kekuatannya 6 maka sekarang menjadi 6,5 atau 7 poin. Tidak terlalu signifikan untuk sebuah peningkatan nilai kekuatan ataupun kelemahan. Artinya dengan kenaikkan yang tidak terlalu besar tersebut posisi kita tidak akan banyak berubah. Sementara orang lain yang fokus terhadap peningkatan salah satu dari kekuatan dan kelemahannya, posisinya akan meningkat bahkan bisa jadi akan mengungguli kita. Sehingga kita akan terkalahkan oleh orang lain yang berhasil mencapai nilai diatas rata-rata.

Kesimpulan pembahasan prioritas ini adalah :

  • Apabila kita ingin mampu untuk menghadapi persaingan.
  • Saat ini eranya dunia serba cepat dan kita ingin menaklukkannya.
  • Kita tidak ingin jadi yang lambat, yang akan terkalahkan.
  • Maka lebih baik kita mendahulukan peningkatan kekuatan kita. Agar kita menjadi orang diatas rata-rata dengan meningkatnya terus kekuatan kita. Dan itu akan membentuk persepsi publik bahwa kita adalah orang yang unggul dan kompeten dengan bidang yang kita kuasai tersebut.

Persepsi publik terhadap diri kita merupakan sesuatu yang sangat penting. Dengan persepsi ini publik akan mengenal kita. Dan dengan persepsi ini pula citra kita akan terbangun di masyarakat. Contoh dari persepsi ini adalah :

  • Teh Botol Sosro.
    Teh Botol Sosro dipersepsikan sebagai minuman teh manis dalam kemasan botol. Berapa banyak produk-produk sejenis bermunculan, namun tetap Teh Botol Sosro yang berada dalam benak konsumen masyarakat Indonesia.
  • Aqua.
    Aqua dipersepsikan sebagai air mineral sehat yang bisa langsung diminum tanpa harus dimasak. Produk-produk lain yang sejenis pun banyak bermunculan, namun tetap juga Aqua yang berada dalam benak konsumen masyarakat Indonesia.
  • Hermawan Kertajaya.
    Hermawan Kertajaya dipersepsikan sebagai begawan marketing di Indonesia. Orang-orang ahli marketing pun banyak di Indonesia, namun tetap Hermawan Kertajaya yang dikenal masyarakat.
  • Yusuf Mansur.
    Yusuf Mansur dipersepsikan sebagai ustadz yang selalu mengangkat tema sedekah dan keutamaannya dalam setiap ceramahnya. Padahal banyak ustadz-ustadz yang lainnya dengan tema yang beragam dalam ceramahnya, namun masyarakat lebih mengenal Yusuf Mansur.
  • Dan lain-lain.

Persepsi publik ini benar-benar sangat melekat dalam benak masyarakat. Untuk merubah persepsi ini merupakan hal yang sulit dan lama. Bahkan bisa jadi sesuatu hal yang hampir mustahil, apabila kekuatannya terus ditingkatkan. Sehingga persepsi ini benar-benar kokoh dalam benak masyarakat dan tak tergoyahkan.

Oleh karenanya tingkatkan terus kekuatan kita. Jadilah pembentuk persepsi berdasarkan kekuatan kita. Bangun persepsi yang kokoh dalam benak masyarakat hingga tak tergoyahkan. Dengan begitu Insya Allah kita akan menjadi PEMENANG.


Thursday, 29 April 2010

ActionScript AdobeFlash CS3

Masih berkutat dengan pembuatan elearning Telkom. Saat ini sedang mencari cara memunculkan suara yang berbeda untuk jawaban benar dan salah. Rencananya untuk jawaban benar suaranya adalah suara orang bertepuk tangan. Dan untuk jawaban salah suaranya adalah suara "lowboing".

ActionScript yang digunakan adalah AS2 dari AdobeFlash CS3 Prof. Pusiiinggg juga nih...

Tunggu kabar selanjutnya...

Thursday, 22 April 2010

Hukum Peluang

Seorang teman datang dan menyampaikan unek-unek pribadinya kepada saya.
Umurnya sudah hampir menyentuh angka 40 tahun, tetapi sampai sekarang ia
masih belum mendapatkan jodoh.

Saya bertanya, sudah menentukan, kriteria calon istri anda? Perempuan, masih
gadis, wajahnya cantik, dari keturunan baik-baik dan taat beribadah. Ia
menyebut beberapa kriteria. Kalau bisa ditambah lagi, sang calon adalah anak
tunggal dan orang tuanya kaya-raya! Tentu saja. Itu kriteria ideal. Kalau
ada perempuan seideal itu, saya juga mau tambah satu lagi, seloroh saya.

Saya sampaikan padanya 3 jurus mencari jodoh. Pertama, berusaha. Kedua,
berdoa. Dua hal ini, sudah dilakukannya. Selama belasan tahun ia sudah
berusaha, dan tentu saja diikuti dengan doa. Kalau dua hal itu sudah
dilakukan tapi belum dapat juga, berarti ia belum melakukan jurus ketiga.
Apa itu?

Berkaca! Siapapun berharap dapat jodoh ideal, tidak ada yang salah. Tapi
sudahkah anda membuat diri anda jadi ideal bagi calon istri anda? Ini hal
penting. Kita membuat syarat terlalu banyak untuk calon istri, tapi
seringkali lupa, bahwa calon istri itu pun punya syarat-syarat tersendiri
untuk calon suaminya. Dan dari eksplorasi pengalaman ini, saya menemukan
'Hukum Peluang'.

Hukum peluang itu berbunyi : 'Besarnya peluang berbanding terbalik dengan
jumlah syarat yang harus dipenuhi'. Bagaimana penjabarannya?

Dalam kasus di atas, peluang untuk mendapatkan jodoh akan mencapai titik
terbesar kalau tidak ada syarat yang harus dipenuhi. Ini berarti, siapa
saja! Peluangnya akan mengecil kalau syarat-syaratnya ditambah. Semakin
banyak tambahannya, semakin kecil peluangnya.

Sampai sedemikian kecilnya, sampai-sampai kawan saya tadi belum ketemu jodoh
di usia menjelang 40 tahun. Bukannya mendahului Tuhan. Jangan-jangan, jika
ia tetap pada syarat-syarat idealnya, dan tidak mencoba kompromi, saya kok
jadi khawatir, sampai ajal menjemput, ia tidak akan ketemu jodohnya!

Hukum peluang ini, ternyata bukan hanya untuk urusan jodoh. Hukum ini
berlaku universal. Mengapa banyak orang tidak mampu mencapai cita-citanya?
Bisa jadi karena yang bersangkutan menetapkan banyak syarat seperti mendapat
beasiswa, banyak yang bantu, atau mudah dicapai.

Mengapa seseorang sampai betah belasan tahun menganggur? Bisa jadi karena ia
mau bekerja jika pekerjaannya mudah dilakukan, gajinya besar, cepat naik
pangkat, fasilitas bagus atau jam kerja singkat.

Memang enak memulai sesuatu dengan kondisi yang ideal. Tetapi jika kondisi
ideal tidak bisa kita peroleh, beranilah untuk memulai dari kondisi yang
ada. Jangan tetapkan banyak syarat. Be realistic ...

(Sudah dimuat di rubrik Inspirasi di Harian Semarang, Sabtu, 3 April 2010)
Zainal Abidin | Jay, de terrorist
Anggota Komunitas Tangan Di Atas

Wednesday, 21 April 2010

Benarkah Rasulullah SAW Sukses Dalam Bisnisnya?

Saat ini saya bersama rekan-rekan sedang mengerjakan proyek pembuatan e-learning untuk Telkom Indonesia.
Berikut screenshot dari content e-learning tersebut :




























Pembuatan content tersebut menggunakan Software Adobe Flash CS3 dan CS4. Proses diawali dari storyboard yang ada, kemudian diterjemahkan kedalam bentuk animasi interaktif.

Waktu pembuatan cukup agak lama dikarenakan kesibukan dari kami masing-masing. Namun sebenarnya apabila dikerjakan dengan fokus tanpa ada gangguan mungkin bisa diselesaikan dalam waktu 14 hari kalender.

Pengalaman berharga buat kami karena proyek ini kami kerjakan ditengah kesibukan kami yang lain. Namun kami harus selesaikan dengan sebaik mungkin untuk menjaga kepercayaan client kami. Karena dengan kepercayaan dari client lah, maka akan terbuka peluang-peluang lainnya.

Rasulullah SAW adalah seorang pebisnis sukses. Kesuksesan beliau tidak terlepas dari kepercayaan yang diberikan kepada beliau dari penduduk Quraisy. Sehingga beliau diberi gelar "Al Amin" yang artinya orang yang dapat dipercaya. Dipercaya dalam segala hal.

Kebalikannya dari itu adalah tidak amanah. Tidak bisa dipercaya. Sehingga bagaimana mungkin berbisnis dengan orang yang tidak bisa dipercaya? Kita akan terus menerus merasa khawatir apabila berbisnis dengan orang yang tidak bisa dipercaya. Bahkan sebisa mungkin kita akan menghindari orang yang tidak bisa dipercaya ini. Dan masuk daftar "Black List" kita.

Mari kita raih kesuksesan kita dengan menjadi orang yang amanah, dan bisa dipercaya oleh orang lain...

Yaa Rabbana, karuniakanlah kepada kami sifat amanah dan dapat dipercaya pada diri kami, sehingga kami dapat menjemput rizqi-Mu... aamiin...

Sunday, 7 February 2010

Kegagalan 1000 Kali untuk Keberhasilan 1 Kali

Pengusaha sudah seharusnya memiliki semangat yang luar biasa untuk menjalankan usahanya. Karena bagi pengusaha apabila gagal 10 kali maka dia akan bangkit 11 kali. Artinya dia akan terus berusaha mencapai keberhasilan.

Para pengusaha sukses bukan berarti mereka tidak pernah gagal. Justru mereka sudah pernah mengalami kegagalan yang sangat banyak namun mereka berusaha untuk bangkit sehingga keberhasilan pun dapat mereka raih. Semua orang sukses akan memiliki tabi'at seperti itu. Dalam 1 kali keberhasilan dibelakangnya mereka telah mengalami kegagalan 1000 kali. Artinya mereka telah gagal 1000 kali namun kemudian bangkit 1001 kali.

Banyak peluang usaha yang ada yang bisa kita raih. Semua tergantung kepada mindset yang ada pada diri kita. Bangunlah cara berfikir seorang pengusaha tangguh. Jangan mudah menyerah, dan jangan cengeng.

Bermimpilah setinggi-tingginya. Mimpilah menjadi no.1 karena kalaupun terpeleset dan tidak tercapai setidaknya ada di no.2 atau 3. Tapi kalau mimpi kita biasa saja menjadi no.10 misalkan maka ketika tidak tercapai maka kita bisa berada di no.11, 12, 13, 14 atau yang lebih rendah dari itu.

Marilah kita rubah mindset kita agar berani bangkit dari kegagalan. 10 kali gagal, maka harus 11 kali bangkit.

Sukses untuk kita!!!
Aamiin

Tuesday, 25 August 2009

Belajar Menjadi Kaya kepada Abdurrahman bin Auf (Bagian 5)

Alhamdulillah, puji dan syukur ke hadirat Allah SWT akan senantiasa saya lakukan untuk mengawali tulisan saya ini. :) Mudah-mudahan bisa terus dilancarkan oleh Allah SWT untuk terus membuat tulisan-tulisan yang baik. Mari kita lanjutkan pelajaran kiat sukses Abdurrahman bin Auf menjadi kaya pada bagian 5 kali ini.

Ketika Abdurrahman bin Auf dengan kreativitas dan inovasinya membuat pasar baru menyaingi pasar orang Yahudi, ia tidak menggunakan uang sendiri. Abdurrahman minta tolong saudara barunya untuk membeli tanah yang kurang berharga yang terletak di samping tanah pasar itu.

Artinya modal bukan segala-galanya, kita bisa memanfaatkan modal orang lain untuk usaha kita. Namun tidak semua orang mau menanamkan modalnya untuk usaha kita. Faktor integritas lah yang dapat menarik kepercayaan orang terhadap kita. Rasulullah SAW diberi gelar Al-Amin artinya yang dapat dipercaya, karena Rasulullah bisa menjaga kepercayaan orang lain terutama masalah harta, sehingga banyak orang yang ingin menginvestasikan hartanya kepada bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Termasuk kredibilitas seorang Abdurrahman bin Auf sangat baik, sehingga saudara barunya mau berinvestasi kepada bisnis Abdurrahman bin Auf.

Tanah tersebut lalu dipetak-petak secara baik. Siapa pun boleh berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Bila dari berdagang itu terdapat keuntungan, ia menghimbau mereka untuk memberikan bagi hasil seikhlasnya. Para pedagang gembira dengan tawaran itu karena membebaskan mereka dari biaya operasional. Mereka berbondong pindah ke pasar baru yang dikembangkan Abdurrahman. Keuntungannya berlipat. Dari keuntungan itu, Abdurahman mendapat bagi hasil. Semua gembira. Tak perlu makan waktu lama, Abdurrahman keluar dari kemiskinan, bahkan menjadi salah seorang sahabat Rasul yang paling berada.

Bisnis Abdurrahman bin Auf ini adalah bisnis properti yang bisa menghasilkan passive income bagi dirinya. Sehingga ketika ada seruan dari Rasulullah SAW untuk bersedekah, maka Abdurrahman bin Auf menyambut seruan itu dengan menyerahkan harta yang banyak untuk Jihad Fii Sabilillah. Walaupun Abdurrahman bin Auf mengeluarkan harta yang banyak keesokan harinya akan ada harta baru lagi bagi Abdurrahman bin Auf dari penghasilan passive incomenya tersebut.

Ada banyak sarana-sarana passive income, diantaranya yaitu:
* Memiliki bisnis yang bisa kita tinggalkan, karena ada manager-manager yang mengurusi bisnis kita;
* Menyewakan Properti (bisa Rumah, Tanah, Kantor, Gedung, dll);
* Royalti dari produk-produk hak cipta seperti menerbitkan buku, menciptakan lagu, membuat software komputer, dll;
* Membuat dan menyewakan ruang iklan di website kita;
* Pensiun;
* Dan lain-lain.

OK itu saja dulu pelajaran kita kali ini. Nantikan pelajaran yang akan kita bahas pada bagian selanjutnya... Tetap ikuti tulisan saya ini... :)

Friday, 21 August 2009

Belajar Menjadi Kaya kepada Abdurrahman bin Auf (Bagian 4)

Alhamdulillah, kali ini tidak memerlukan waktu yang lama untuk melanjutkan tulisan ini ke bagian 4. :) Mudah-mudahan bisa terus dilancarkan oleh Allah SWT untuk terus membuat tulisan-tulisan yang baik. Mari kita lanjutkan pelajaran kiat sukses Abdurrahman bin Auf menjadi kaya pada bagian 4 kali ini.

Ketika hijrah dari Mekah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dan kaum muslimin lainnya tidak membawa harta mereka turut serta ke Madinah. Artinya mereka datang ke Madinah tanpa membawa harta kekayaan dan mereka harus mencari uang dan harta untuk menghidupi mereka dari awal lagi.

Dan ketika Abdurrahman bin Auf ditawari oleh Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari setengah hartanya, Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan halus. Ia boleh miskin materi, tapi ia tidak akan pernah menjadi miskin mental. Jangankan meminta, ia pun pantang menerima pemberian orang lain selain upahnya sendiri. 'Tangan di bawah' sama sekali bukan perilaku mulia. Abdurrahman benar-benar memegang teguh nilai itu. Ia pun memutar otak bagaimana caranya dapat keluar dari kemiskinan dengan usahanya sendiri tanpa harus menerima pemberian orang lain. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Ia pun pergi ke pasar dan mengamatinya secara cermat. Dari pengamatannya ia tahu, pasar itu menempati tanah milik seorang saudagar Yahudi. Para pedagang berjualan di sana dengan menyewa tanah tersebut, sebagaimana para pedagang sekarang menyewa kios di mal.

Kreativitas Abdurrahman pun muncul, dan kreativitas inilah yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin sukses. Dengan kreativitas dan inovasi akan membuat kita dan produk kita memiliki nilai tambah, yang akhirnya akan membuat berbeda dengan orang dan produk yang lainnya. Abdurrahman minta tolong saudara barunya untuk membeli tanah yang kurang berharga yang terletak di samping tanah pasar itu. Tanah tersebut lalu dipetak-petak secara baik. Siapa pun boleh berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Ini yang membedakan produk Abdurrahman dengan produk orang Yahudi tadi, yaitu kebebasan untuk berjualan tanpa membayar sewa. Bila dari berdagang itu terdapat keuntungan, ia menghimbau mereka untuk memberikan bagi hasil seikhlasnya. Para pedagang gembira dengan tawaran itu karena membebaskan mereka dari biaya operasional. Mereka berbondong pindah ke pasar baru yang dikembangkan Abdurrahman. Keuntungannya berlipat. Dari keuntungan itu, Abdurahman mendapat bagi hasil. Semua gembira. Tak perlu makan waktu lama, Abdurrahman keluar dari kemiskinan, bahkan menjadi salah seorang sahabat Rasul yang paling berada.

Kegigihannya dalam berdagang juga seperti yang beliau ungkapkan sendiri: "Aku melihat diriku seperti kalau seandainya aku mengangkat sebuah batu maka aku mengharapkan mendapatkan emas atau perak".

Nah pada pelajaran kali ini ada beberapa point yang bisa kita tarik kesimpulan yaitu tumbuhkan mental tangguh dalam berusaha, asah kreativitas dan inovasi terus menerus, dan tingkatkan kegigihan usaha kita. Insya Allah kita bisa sukses.

Nantikan pelajaran yang akan kita bahas pada bagian selanjutnya... Tetap ikuti tulisan saya ini dan simak baik-baik... :)

Thursday, 20 August 2009

Belajar Menjadi Kaya kepada Abdurrahman bin Auf (Bagian 3)

Alhamdulillah, walaupun memerlukan waktu yang lama untuk melanjutkan tulisan ini ke bagian 3 namun akhirnya saya bisa melanjutkan tulisan ini ke bagian 3. Beginilah hambatan saya ketika menulis, kadang suka terhenti ditengah jalan... :p. Oke mari kita pelajari kiat sukses Abdurrahman bin Auf menjadi kaya pada bagian 3 ini.

Setelah Abdurahman bin Auf diberitahu lokasi pasar oleh Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari, maka sejak saat itu Abdurahman bin Auf berprofesi sebagai pedagang dan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Omset dagangannya pun makin besar, sehingga ia dikenal sebagai pedagang yang sukses. Ia tak pernah absen dalam setiap peperangan yang dipimpin Rasulullah. Suatu hari, Rasulullah SAW berpidato membangkitkan semangat jihad dan pengorbanan kaum Muslimin. Beliau berkata, "Bersedekahlah kalian, karena saya akan mengirim pasukan ke medan perang."

Mendengar ucapan itu, Abdurrahman bin Auf bergegas pulang dan segera kembali ke hadapan Rasulullah. "Ya, Rasulullah, saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah, dan sisanya saya tinggalkan untuk keluarga saya," ucap Abdurrahman. Lalu Rasulullah mendoakannya agar diberi keberkahan oleh Allah SWT.

Subhanallah, ini juga menjadi kunci sukses seorang Abdurrahman bin Auf. Ia bersedekah (meminjamkan hartanya kepada Allah) secara ikhlas dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung yaitu setengah dari harta yang dimilikinya. Abdurrahman bin Auf menyumbang separuh hartanya yang senilai 2000 Dinar atau sekitar Rp 2.4 Milyar nilai uang saat ini (saat itu beliau ‘belum kaya’ dan hartanya baru 4000 Dinar atau Rp 4.8 Milyar). Atas sedeqah ini beliau didoakan khusus oleh Rasulullah SAW yang berbunyi “Semoga Allah melimpahkan berkahNya kepadamu, terhadap harta yang kamu berikan. Dan Semoga Allah memberkati juga harta yang kamu tinggalkan untuk keluarga kamu.” Rasulullah SAW mendoakan keberkahan kepada Abdurrahman bin Auf. Keberkahan artinya sesuatu yang terus bertambah. Sehingga wajar jikalau akhirnya harta Abdurrahman bin Auf terus bertambah. Do’a ini kemudian benar-benar terbukti dengan kesuksesan demi kesuksesan Abdurrahman bin Auf berikutnya.

Mengapa dengan bersedekah harta kita akan bertambah? Dengan bersedekah harta memang dapat tumbuh dan berkembang, bertambah karena suci dan berkah, membawa kebaikan bagi hidup dan kehidupan yang punya. Secara lahiriah, sedekah memang mengurangi nilai nominal (harta) dengan mengeluarkannya, tetapi dibalik pengurangan yang bersifat zhahir ini, hakikatnya akan bertambah dan berkembang (nilai intrinsik) yang diganjarkan dari 10 kali lipat atau bahkan sampai 700 kali lipat yang hakiki di sisi Allah Swt. “Barang siapa melaksanakan amal kebajikan (termasuk bersedekah) maka akan diganjarkan oleh Allah sepuluh kali lipat” (QS. Al-an’am: 160). “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Berdasarkan ayat tersebut jelas bahwa dengan bersedekah harta dapat tumbuh dan berkembang tidak hanya di akhirat melainkan juga di dunia. Rasulpun menjelaskan orang yang mengeluarkan sedekah/zakat akan terhindar dari marabahaya/musibah. Bahkan sedekah dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlak mulia, menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu, akhirnya tercipta suasana ketenangan bathin yang terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, yang selalu melingkupi hati.

Inilah pelajaran kedua yang bisa kita ambil dari kisah sukses Abdurahman bin Auf. Nantikan tulisan saya selanjutnya..... :)

Friday, 24 April 2009

Produk Inovasi Bagi Orang yang Tidak Memiliki Waktu Lebih untuk Membaca Buku

Monday, 30 March 2009

Surat Untuk Saudaraku

Saudaraku ...

Saya dapat memahami perasaan Anda. Sesungguhnya bukan hanya Anda, saya pun dahulu juga telah mengalami ujian yang sama. Berusaha dan belum berhasil, tidak punya uang, justru banyak hutang, sudah saya alami.

Padahal sudah membuat daftar impian, tujuan yang pasti, sudah membuat strategi, sudah berani mengambil tindakan … Nekat malah, karena saya melepas pekerjaan saya demi bisnis. Bukan keberhasilan yang diraih, namun justru kesulitan demi kesulitan. Pada waktu itu pun, saya merasakan rasa frustasi yang luar biasa.

Saudaraku …

Pertama-tama harus kita pahami tentang sunatullah, ketetapan Allah yang berlaku sebagai hukum yang berjalan di alam semesta ciptaanNya ini. Ketetapan ini berlaku tanpa memandang siapa pun pelaku nya. Misalnya: hukum grafitasi. Benda apapun, jika dilepaskan akan jatuh ke permukaan bumi. Siapapun yang menjatuhkan benda itu, apapun agama nya, bahkan atheis sekalipun, benda tadi akan jatuh ke permukaan bumi. Karena demikianlah sunatullah nya.

Sunatullah yang lain adalah, siapa yang ingin berhasil dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai nya, maka atas seizin Allah, keinginannya akan tercapai. Siapapun orangnya, apakah itu muslim, non-muslim, bahkan atheis sekalipun. Karena ini sudah merupakan sunatullah, sebagaimana hukum grafitasi. Maka saya tidaklah heran dengan keberhasilan Bill Gates ataupun Donald Trump, karena mereka memang melakukan usaha dengan sungguh-sungguh.

Lantas, mengapa ada orang yang sudah berusaha namun belum berhasil? Jika keberhasilan, sebagaimana grafitasi adalah sunatullah? Mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan nya adalah, betulkan ia sudah berusaha sesuai dengan cara-cara yang dilakukan orang yang berhasil? Jika belum, maka tentu saja dia masih belum akan mecapai keberhasilan. Sebagaimana kita melepas benda, namun benda tadi terikat dengan tali, maka hukum grafitasi bumi pun tidak bisa menarik benda tadi.

Lalu, bagaimanakah cara-cara orang yang berhasil itu? Keberhasilan orang-orang yang sukses dalam berbisnis itu meninggalkan jejak. Sehingga kita bisa mengikuti jejak-jejak tadi, untuk ikut mencapai kesuksesan.

Saudaraku, untuk memulai, sebagai tahap awal coba praktekkan beberapa sikap mental yang banyak kita temui pada orang-orang berhasil ini:

Ikhlas.

Orang yang berhasil, melakukan segala sesuatu dengan Ikhlas. Batin nya ikhlas, menerima apa yang telah Tuhan berikan untuk nya hari ini. Bahwa pasti ada kebaikan yang Tuhan semesta alam berikan hari ini. Sekalipun mungkin peristiwa hari ini “buruk” di mata kita. Karena buruk di mata kita, belum tentu buruk di mata Tuhan.

Alkisah, jaman dahulu kala, di sebuah kampung, ada seorang lelaki tua yang hidup dengan anak lelaki tunggalnya. Suatu ketika pemuda tadi jatuh dari kuda, dan kaki nya patah. “Malang benar nasib anakmu ...” Demikian kata orang kampung. Ternyata, keesokan hari nya, datanglah tentara kerajaan untuk mengajak seluruh pemuda yang sehat maju ke medan perang yang mengerikan, yang hampir dipastikan seluruh pemuda tadi akan pulang tinggal nama. Seluruh orang tua menangis meratapi nasib anaknya … Kecuali orang tua dari pemuda yang kaki nya patah tadi. Jadi sekarang siapa yang nasib nya malang?

“Kemalangan” ternyata hanyalah penilaian kita sebagai manusia yang lemah ini.

Jadi Saudaraku …. apakah hari ini usaha kita selalu gagal, banyak hutang, tidak punya uang? Saya yakin, pasti ada maksud baik Tuhan dari pengalaman kita hari ini.

Syukur.

Selain ikhlas, kita juga harus terima dan syukuri apa yang sudah kita alami dan miliki hari ini. Dan juga apa-apa yang sudah kita terima di masa lalu, dan apa yang akan kita terima besok.

Karena tidak ada guna nya batin kita menolak dan menyesali apa yang kita alami hari ini. Seringkali batin kita menjerit-jerit, “mengapa nasib ku seperti ini ….”, namun hal ini malah akan memperkuat penderitaan kita. “What you resist persist ... “demikian pepatah kata. Makanya, orang yang mengeluhkan penderitaannya, biasanya penderitaanya semakin buruk. Yang mengeluhkan hutang, hutangnya makin banyak, yang mengeluhkan bisnisnya sepi, bisnisnya makin sepi, yang mengeluhkan tidak punya uang, uang nya makin sedikit.

Sebaliknya, orang yang bisa mensyukuri apa yang mereka terima hari ini, maka insyaAllah justru kenikmatan yang dia terima akan bertambah.

Jadi, saudaraku … Mulailah dengan mensyukuri apa yang saudaraku sudah miliki hari ini. Tidak hanya materi, namun juga kesehatan, cinta, pengetahuan, keluarga, dan sahabat. Banyak orang yang kaya materi namun tidak memiliki yang saya sebutkan tadi.

Lepaskan.

“Let it Go … Let it God”. Kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Bijaksana. Maka lepaskanlah kembali semuanya kepada Dia. Kembalikan semuanya kepada Dia. Biarkan Tuhan yang mengatur hidup kita ini.

Kadang kita merasa lebih tahu dan lebih pintar dari Tuhan. Bahwa hidup kita harus seperti yang kita “tentukan”. Padahal Tuhan lah yang menentukan hidup kita.

Banyak kejadian sudah saya alami. Bahwa di satu titik kita menemui jalan buntu, ketika seluruh logika dan nalar tidak mampu lagi mencari penyelesaian, penyelesaian justru datang ketika kita pasrahkan kembali permasalahan kita kepada Allah.

Sedih karena ditolak calon pelanggan? Wajar, namun lepaskan kembali pada Tuhan, siapa tahu Yang Punya Hidup punya skenario lain, yaitu memberikan pelanggan yang lebih baik.

Amanah.

Amanah adalah selalu bisa dipercaya, menepati janji dan menunaikan tanggung-jawab. Seringkali kita tergoda untuk tidak amanah pada saat kita mengalami perjalanan hidup yang sulit.

Kepercayaan yang diberikan kepada kita, dengan mudahnya kita sia-sia kan, demi keuntungan sesaat. Seringkali demi uang yang jumlahnya tidak seberapa.

Kalau kita berhutang, maka kita wajib berusaha membayarnya. Dengan segala usaha yang kita mampu.

Saya juga pernah mengalami tidak mampu membayar hutang seperti saudara. Namun, saya berusaha dengan menemui pemberi hutang, dengan sikap yang baik, untuk membicarakan kembali jadwal pembayaran hutang saya.

Bahkan, saya juga pernah menawarkan barter, menukar hutang saya dengan keahlian yang saya miliki. Dan berhasil.

Yang penting adalah berusaha untuk amanah. Karena buah dari amanah, adalah nama baik dan kepercayaan, yang selama nya akan menjadi modal utama dalam bisnis kita. Donald Trump, misalnya, berhasil bangkit dari keterpurukan, karena nama baik nya dalam bisnis masih dipercaya investor.

Dan yang terakhir saudaraku, adalah ...

Memberi.

Berikanlah apa yang saudara sedang cari. Karena ia akan kembali dalam jumlah yang berlipat-lipat. Jika saudaraku mencari cinta, maka berikanlah cinta. Jika Anda mencari ilmu, berikanlah ilmu. Dan jika Anda mencari uang, berikanlah uang …

“Power of Giving” sudah dibuktikan oleh banyak orang. Dengan memberi, maka kita akan menerima. Bukan sebaliknya.

Maka, Bill Gates pun tidak ragu menyumbangkan lebih dari 28 milyar Dollar kekayaanya, dan apa yang terjadi? Bill Gates makin kaya, bukan tambah miskin.

Dua minggu lalu, saya mengalami sendiri hal ini. Saya memberikan sejumlah uang melalui transfer bank. Dan di tempat parkir mobil, masih di bank yang sama, saya menerima pemberitahuan dari staff saya lewat telephone kalau kami menerima order, senilai 100 kali lipat uang yang saya berikan. Kekuatan memberi benar-benar terbukti.

Demikian yang dapat saya bagikan saudaraku …

Sikap mental Ikhlas – Syukur – Lepaskan – Amanah - Memberi, ini telah menolong saya di masa-masa sulit dahulu, dam semoga bisa membantu Saudara mencapai apa yang dicita-citakan. Amin.

Salam,

Fauzi Rachmanto
TDA Bandung

Friday, 27 March 2009

Belajar Menjadi Kaya kepada Abdurrahman bin Auf (Bagian 2)

Alhamdulillah, saya bisa melanjutkan tulisan ini ke bagian 2. Oke mari kita pelajari cara Abdurrahman bin Auf menjadi kaya.

Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari, salah seorang kaya yang pemurah di Madinah. Abdurrahman pernah ditawari Sa'ad untuk memilih salah satu dari dua kebunnya yang luas. Tapi, Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta kepada Sa'ad ditunjuki lokasi pasar di Madinah. Nah, apa pelajaran dari sini? Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari, dimana Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari ini adalah seorang yang kaya raya di Madinah. Ketika Abdurrahman ditawari setengah harta kekayaannya, Abdurrahman bukannya menerima tapi malah menolaknya. Justru yang diminta oleh Abdurrahman adalah agar Sa'ad bin Rabi' menunjukkan lokasi pasar.

Ini adalah kecerdasan finansial seorang Abdurrahman bin Auf. Kalau kita ditawari seperti itu oleh seorang yang kaya, kita mungkin akan mengambil sikap yang berbeda dengan Abdurrahman. Kita akan mengambil pilihan setengah harta yang diberikan. Namun bagi yang memiliki kecerdasan finansial seperti Abdurrahman tentu akan bertanya kepada si orang kaya tersebut,
"Bagaimana caranya saya bisa seperti Anda?",
"Anda sebagai orang yang kaya tentu tau cara berbisnis yang baik, ajarkanlah saya.",
"Anda tentu tau darimana saya bisa mendapatkan barang yang bagus dan murah, tunjukkan saya letaknya.",
"Tunjukkan pada saya lokasi pasar (mall, pusat belanja, dsb) di kota ini. Saya akan bisnis disana."
"Tunjukkan saya dimana membeli barang yang bagus dan murah? Sehingga saya bisa menjualnya kembali dengan keuntungan yang bagus."
"Tunjukkan saya dimana mencari tenaga kerja yang handal, yang bisa membantu bisnis saya." dan mungkin pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bisa mengarahkan kita agar bisa kaya sama seperti orang kaya tersebut.

Itulah alasan Abdurrahman bin Auf meminta Sa'ad bin Rabi' untuk menunjukkan kepadanya lokasi pasar. Karena seorang yang kaya tentunya memiliki pengetahuan-pengetahuan yang tidak kita ketahui seperti itu. Orang kaya tentunya tahu darimana mendapatkan modal, tahu darimana mendapatkan barang yang bagus dan murah, tahu trend bisnis seperti apa, tahu bisnis yang bagus dan yang tidak, dan lain sebagainya.

Jadi pelajaran pertama dari Abdurrahman bin Auf agar kita menjadi kaya adalah bertanya kepada seorang yang kaya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa mengarahkan kita agar bisa kaya sama seperti orang kaya tersebut.

Pelajaran berikutnya akan kita bahas pada bagian selanjutnya... Tetap ikuti tulisan saya ini dan simak baik-baik... :)